from my window

Laporan Liburan (Eps. 1)

Posted by: sekar on: July 18, 2011

“saya percaya, Allah menciptakan hambaNya yang beragam di dunia ini dengan perbedaan keyakinan, perbedaan ras, perbedaan karakter adalah supaya masing masing manusia memahami satu sama lain. Dan menciptakan perdamaian didunia ini dengan saling bertoleransi tanpa memaksa orang lain utuk menjadi sama dengan mereka,”

18 Juli 2011,

Pagi itu tidak seperti biasanya, saya bangun lebih pagi. Ya, semua tahu mahasiswa yang sedang pulang kampong setelah menjalani aktivitasnya sekaligus belajar selama 4 bulan tanpa istirahat berarti akan sangat menikmati liburan. Saya salah satunya, semester 2 saya diisi dengan belajar materi perkuliahan, rapat organisasi, kepanitiaan dan segudang aktivitas lain. Yang saya juga sudah agak lupa. Beruntung dengan kegiatan bak mesin pabrik tanpa henti, indeks kumulatif saya stabil sama dengan semester sebelumnya.

Ya semuanya adalah kombinasi sempurna antara keinginan kuat, usaha yang keras, dan doa yang tak henti-hentinya kepada Allah Sang Maha Khalik. Saya ingat, euforia pertama organisasi adalah ,”Ya Tuhan, gimana IP gue nanti?Pasti terjun bebas tanpa parasut!”

Sudah ada banyak orang yang berkata demikian. Well, sebenarnya saya juga pernah berpikir mengenai hal tersebut. Sampai saya terlalu paranoid saat salah satu nilai UTS saya turun. Mungkin orang menggangap saya agak nepsong atau gila, tapi FYI jurusan saya adalah jurusan yang bisa dikatakan paling SO se FISIP.  Orangnya rajin-rajin, ga ada tugas saja pada rebut bikin tugas sendiri, saya juga nggak ngerti lagi mesti  gimana. Positifnya adalah mereka membuat saya tetap melek bersaing, dan terus belajar. Bukan berarti anak organisasi IP nya nasakom kaaan? *mengerling . Saya sering tertawa sekarang kalau anak organisasi dianggap tidak bisa membagi waktu dan pasti IP nya kurang bagus. Ah kata siapa?

Buktinya banyak kok orang hebat yang bisa membagi waktunya dengan baik. Bisa belajar, IP maksimal, organisasi maksimal, kehidupan sosial maksimal. Semua bisa dilakukan. Tergantug masing-masing individu, bagaimana mereka membentuk pola pikir dan usaha mereka. Di organisasi saya contohnya, ada Bang Andreas Senjaya yang menurut saya hebat sekali dan bisa dibilang tauladan. Juara II Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia tahun 2009 ini adalah mantan wakil ketua BEM Fasilkom, aktif di organisasi asrama, dan sekarang merupakan MWA UI Unsur Mahasiswa. Dan yang membuat saya mengacungkan jempol , Bang Jay bukanlah orang yang tutup mata akan kegiatan sosial. Selain itu kepribadiannya yang baik, humble dan rendah hati membuat dia lebih dari sekedar mahasiswa berprestasi. Well, setidaknya bagi saya.

Nah itu satu contoh, ada lagi banyak contoh diluar sana yang tentu tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Mahasiswa aktif yang hebat didalam maupun diluar kelas.

Kembali lagi ke cerita, akhirnya saya kembali ke kampung saya. Boyolali namanya. Letaknya di kaki Gunung Merapi. Kalo teman-teman ingat, Boyolali adalah salah satu daerah rawan saat Gunung Merapi meletus. Bahkan rumah saya berada tepat 20 km dari gunung tersebut. Hal baiknya adalah, suhu udara disini sangat bersahabat. Selain itu masih virgin, a.k.a bebas polusi. Yah, dari kota kecil inilah saya berasal.

Setelah menjalankan shalat subuh, saya beranjak melihat berita di televisi. Dan lagi-lagi masih soal ketidakpercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan pemerintahan SBY. Hem…no comment sajalah. Meskipun saya mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, saya bukanlah termasuk anak yang “melek” politik. Saya termasuk salah satu mahasiswa apatis yang sudah “malas” membahas negeri ini lebih jauh. Bukan bermaksud apa, tapi sampai sekarang saya merasa capek dengan segala pencitraan pemerintah. Yang ada justru pertanyaan dari dalam hati saya yang terdalam, sebenarnya siapa sih yang bisa dipercaya? People talk like they fart. Tut tut tut. Istilahnya udah ga mikir lagi. Ironisnya, organisasi saya adalah organisasi yang kritis akan kebijakan kampus. Kebiasaan berpikir kritis itulah yang membuat saya apatis.

Akhirnya keapatisan saya terbukti saat saya ingin memperpanjang SIM saya. Saya baru benar-benar merasakan ribetnya salah satu birokrasi pelayanan masyarakat. Saya diminta kesana kesini bikin surat ini itu. Padahal intinya Cuma satu : BAYAR. Heran. Inilah yang sebenarnya harus dan ingin saya ubah dari ini. Birokrasi terlalu panjang dan bertele-tele, yang justru menjadi spot spot petugas tidak bertanggung jawab untuk mengambil keuntungan pribadi.

Lebih ironis lagi ketika kita melihat 50% APBN hanya digunakan untuk pendapatan para PNS. Padahal jika kita lihat pada fakta dan realita, kualitas pelayanan public tidak bertambah baik dan praktis. Yang bertambah hanyalah gendutnya birokrasi dan meningkatnya moratorium Pegawai Negeri Sipil. Banyak orang yang bertanya,”Lah kok PNS lebih banyak nganggurnya disbanding sibuknya? Sampai bisa jalan-jalan walaupun dalam jam kerja?” . Miris sekali. Padahal seharusnya pegawai negeri sipil, adalah pejabat-pejabat negara yang mengabdi dan melayani rakyat. Serta bekerja maksimal sesuai dengan job desc yang diberikan. Tapi ya mau dikata apa, wong kerjaannya ga ada?

 

Headline Kompas hari ini cukup menggelitik saya, apalagi saya membacanya dikala antrian pembuatan SIM. “Negara Bertaburan Lembaga: Fantastis, selain kementrian, ada lebih dari 116 lembaga”. Wow, bisa dibayangkan berapa jumlah pegawai negeri sipil mulai dari daerah sampai ke pusat, pertanyaan besarnya adalah apakah kualitas mereka sejajar dengan kuantitasnya?

Hal inilah yang perlu dikaji secara lebih mendalam oleh pemerintah. Kebijakan pensiun dini serta menurunkan moratorium pegawai negeri sipil saya rasa sudah menjadi salah stu alternative jawaban dari permasalahan tersebut. Namun perlu diperhatikan lagi bagaimana ekskusi kebijakan tersebut dapat dilaksanakan secara maksimal sampai ke daerah. Selain itu pertimbangan utamanya adalah apakah lembaga-lembaga pemerintahan tersebut tidak terlalu banyak? Mengingatbanyak kasus timpang tindih kewenangan dan lain sebagainya. Ada baiknya pemerintah kembali mengkaji ungsi dari masing-masing lembaga kelengkapan negara.

*-*

Panti

Ditengah perjalanan pulang, hati nurani saya kuat mengatakan bahwa saya harus berbelok ke sebuah tempat di samping makam Ratna Negara. Hm…entah mengapa saya yakin sekali salah satu to-do list saya ini bisa dilakukan disini.

Tibalah saya disebuah tempat bernama, Panti Asuhan W****.

Dan saya disambut oleh seorang ibu setengah baya yang agak kaget melihat saya datang.

“Saya Sekar Ibu, saya ingin bertanya apakah saya bisa melakukan kerja sosial disini sebagai pengajar adik-adik mungkin…”kata saya ramah.

Ibunya tersenyum, “Silakan masuk, Nak”

Saya merasa ada yang aneh dengan cerita ibu Widodo tersebut, yang notabene merupakan salah satu pengurus harian Panti. Well, sedihnya hanya ada 2 pengurus harian dipanti tersebut. Ibu Widodo dan suaminya. Dan sebenarnya mereka memang membutuhkan tenaga untuk mengajar anak-anak disana. Yang aneh adalah ketika ibu Widodo mulai mengarahkan pembicaraan bahwasanya Panti Asuhan tersebut merupakan Panti Asuhan Kristen.

Saya hanya tersenyum dan menjelaskan bahwa tujuan saya kesini adalah murni untuk bekerja sosial, dan saya bertambah yakin meskipun kenyataannya tempat dimana saya akan mengajar ialah tempat yang memiliki basis keyakinan yang berbeda. Yang ada dipikiran saya waktu itu adalah, saya akan kembali belajar hidup dengan perbedaan sama  seperti yang saya rasakan dulu sewaktu saya di Jerman. Dan saya akan sangat bersyukur menemukan kembali pengalaman itu.

Saya hanya tersenyum sambil berkata,”Saya hanya percaya kalau manusia memang diciptakan berbeda supaya mereka dapat menghargai arti kata toleransi. Dan justru perbedaan itu indah bukan,ketika satu sama lainnya saling memahami dan mendapatkan sudut pandang yang berbeda dalam hidup mereka Bu. Dan saya akan sangat bahagia jika saya dapat menularkan ilmu saya kepada adik-adik disini.”

Ya, hidup adalah tentang keragaman. Dan bagaimana manusia dapat menyikapinya. Bagaimana akhirnya mereka dapat belajar menempatkan diri dimanapun mereka berada. Betapa indahnya dunia ini, ketika setiap orang dapat belajar menghargai perbedaan orang lain. Diversity is more than just the quantity of sugar in the spoon. Everyone has their own colour. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah memoles warna masing-masing supaya terlihat lebih indah tanpa mewarnai bagian dengan warna yang berbeda.

*-*

Saya memang kecewa ketika akhirnya saya harus menciptakan to-do list baru bagi liburan semester 2 saya. Awalnya saya begitu ingin merasakan bagaimana magang dan feel the real rhytm of Jakarta. Berangkat pagi pulang malam, dengan baju kerja. Hebat. Tapi Allah puya rencana lain, rencana yang lebih baik dari rencana saya tersebut dan berusaha mengingatkan saya. Mungkin saya terlalu terobsesi pada hal tersebut, mungkin saya kurang berusaha, dan berdoa. Dan yang paling utama adalah mungkin Allah tahu. Ibu saya lebih membutuhkan saya dirumah, karena saya memang jarang pulang. Apalagi mengingat rencana kedepan memang liburan semester genap berikutnya saya mungkin tidak akan pulang kerumah.

I will be busy with my own. And insya Allah, semoga rencana liburan kedepan tidak akan gagal lagi J

Well, entah mengapa sekarang saya tersenyum dan membayangkan apa yang akan terjadi pada saya berikutnya dengan hidup saya yang kembali beraktivitas. Kursus, sosial, dan lain sebagainya. Bismillah. Semoga diberikan kelancaran. Tunggu blog saya selanjutnya yaa…

“Life has been planned by us, but God always has the best plan for us. Life is more than an adventure”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

this month preview

July 2011
M T W T F S S
« May    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

my status of today

me my self and i

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.